Pendahuluan Ke-7: Tidak Menyikapi Sesuatu dengan Mengutamakan Perasaan
Pendahuluan berikutnya, perlu diketahui bahwa dalam menyikapi sesuatu tidak boleh memakai perasaan. Misalnya, dikatakan si fulan sesat lalu merasa kasihan, tidak tega. Seharusnya yang menjadi ukuran adalah dilihat dari sisi ilmiahnya dan dalil-dalilnya serta jangan memakai perasaan.
Dalam Al Qur’an Allah subhânahu wa ta’âlâ menyifatkan orang-orang yang menyeleweng seperti anjing:
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْناَهُ آياَتِناَ فَانْسَلَخَ مِنْهاَ فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطاَنُ فَكاَنَ مِنَ الْغاَوِيْنَ. وَلَوْ شِئْناَ لَرَفَعْناَهُ بِهاَ وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى اْلأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِآياَتِناَ فاَقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ.
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab). Kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu ia diikuti oleh syaitan sampai dia tergoda. Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya yang rendah, maka permisalan dirinya seperti anjing, bila engkau menghalaunya dijulurkannya lidahnya dan bila engkau membiarkannya, anjing itu tetap menjulurkan lidahnya. Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.” (QS Al A’râf: 175-176)
Allah subhânahu wa ta’âlâ juga memperumpamakan penghuni Jahannam lebih bodoh daripada binatang ternak:
وَلَقَدْ ذَرَأْناَ لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِنَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ لَهُمْ قُلُوْبٌ لاَ يَفْقَهُوْنَ بِهاَ وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَ يُبْصِرُوْنَ بِهاَ وَلَهُمْ آذَانٌ لاَ يَسْمَعُوْنَ بِهاَ أُولَئِكَ كَاْلأَنْعاَمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغاَفِلُوْنَ.
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami. Dan mereka memiliki mata namun tidak dipergunakannya untuk melihat. Dan mereka punya telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak bahkan mereka lebih bodoh lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS Al A’râf: 179)
Allah subhânahu wa ta’âlâ juga mengibaratkan orang yang menyelisihi Kitab-Nya seperti keledai:
مَثَلُ الَّذِيْنَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوْهاَ كَمَثَلِ الْحِماَرِ يَحْمِلُ أَسْفاَرًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِآياَتِ اللهِ وَاللهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِيْنَ.
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS Al Jumu’ah: 5)
Dan Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam ketika ditanya oleh Fathimah bintu Qais radhiyallâhu ‘anha dalam hadits riwayat Muslim minta petunjuk siapa yang dinikahi, dijelaskan oleh Nabi. Ada dua orang shahabat yang melamarnya Abu Jahm dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallâhu ‘anhum, maka beliau shallallâhu ‘alaihi wasallam berkata,
أَمَّا أَبُوْ الْجَهْمِ فَلاَ يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتِقِهِ، وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوْكٌ لاَ مَالَ لَهُ، انْكِحِي أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ.
“Adapun Abul Jahm, ia tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya. Sedangkan Mu’awiyah seorang yang fakir tidak berharta, maka (jangan engkau menikah dengan salah satunya) menikahlah dengan Usamah bin Zaid.” (HR Muslim no. 3681)
Dan juga dalam hadits Abi Umamah Al Bahili radhiyallâhu ‘anhu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam ketika menyebutkan tentang orang-orang Khawarij, (tapi perlu digarisbawahi Khawarij itu oleh para ulama tidak dikafirkan menurut Jumhurul Ulama tapi apa yang disifatkan oleh beliau), yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Al Humaidi dan lain-lainnya:
أُولَئِكَ كِلاَبٌ أَهْلِ النَّارِ، أُولَئِكَ كِلاَبٌ أَهْلِ النَّارِ، أُولَئِكَ كِلاَبٌ أَهْلِ النَّارِ
“Mereka adalah anjing-anjing neraka, mereka adalah anjing-anjing neraka, mereka adalah anjing-anjing neraka.”
Lihat Imam Ahmad rahimahullâh, beliau sedang duduk disampaikan kepada beliau, “Ya Imam, ada orang di Makkah namanya Ibnu Qutailah mengatakan ahli hadits itu kaum yang jelek.” Imam Ahmad dengan marah berdiri seraya berkata, “Zindiq, zindiq, zindiq, zindiq,” sampai beliau masuk ke rumahnya.
Maka tegas para aimmah dalam permasalahan.
Lihat Imam Asy Syafi’i rahimahullâh tentang riwayat Al Bayadhi, kata beliau,
مَنْ رَوَى عَنِ الْبَيَاضِ بَيَّضَ الله عَيْنَيْهِ
“Siapa yang meriwayatkan dari Al Bayadhi, mudah-mudahan Allah membuat matanya menjadi putih.”
Dido’akan kejelekan oleh Imam Asy Syafi’i sebab berbahaya kalau mengambil hadits lemah dari orang yang seperti ini.
Juga Imam Malik rahimahullâh ketika mengkritik Muhammad bin Ishaq bin Yasar—yang walaupun kritikannya tidak diterima oleh para ulama—Imam Malik mengatakan,
دَجَّال مِنَ الدَّجَّاجِلَ
“Ia itu Dajjal dari para Dajjal.”
Jadi para aimmah tidak memakai perasaan sebab kalau memakai perasaan memang sulit. Pernah suatu ketika ada seseorang yang dinasihati tentang ‘Abdurrahim Ath Thahhan, kemudian ia yang dinasihati mau menangis. Dinasihati bahwa ‘Abdurrahim Ath Thahhan itu sesat, begini, begini, mau menangis ia membela dan tidak terima. Yang demikian ini tidak sepantasnya. Sebenarnya kalau pun mau memakai perasaan, begini caranya: ‘Abdurrahim Ath Thahhan itu mencerca wibawa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam dengan pemikirannya yang sesat kemudian menghinakan para ulama, jadi orang seperti ini memang harus diberitahukan kepada umat tentang sesatnya. Jadi, perasaannya diukur dengan tolak ukur Al Qur’an dan Sunnah Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam.
Kemudian perkataan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam kepada Abu Dzar radhiyallâhu ‘anhu:
يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ امْرُءٌ فِيْكَ جَاهِلِيَّةٌ
“Wahai Abu Dzar, sesungguhnya Engkau pada dirimu terdapat perkara jahiliyyah.” [Ketika ia mencerca seseorang dengan cara mencerca ibunya] (Muttafaqun ‘alaih)
Dan Nabi berkata kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallâhu ‘anhu ketika ia mangimami orang dan sholatnya terlalu lama dan panjang karena dia baca qira’ah yang panjang sekali sehingga ada orang keluar dan sholat sendiri, Nabi menegurnya dengan keras,
أَفَتَانٌ أَنْتَ يَا مُعَاذُ ؟
“Apakah engkau tukang fitnah wahai Muadz?” (HR Al Bukhari, Muslim, An Nasa’i)
Maka sekali lagi jangan memakai perasaan atau jangan mengukur kebiasaan saja. Misalnya baru melihat seseorang yang sepertinya bagus orangnya, akhlaqnya masyâ Allâh. Bukan itu ukurannya, yang dilihat adalah apakah di atas Al Haq atau tidak.
Karena itu Imam Asy Syafi’i rahimahullâh berkata, “Kalau kamu melihat ada orang yang sholat di udara atau sholat di atas air, maka kamu jangan terima orang ini sampai kamu cocokkan perkaranya di atas Al Qur’an dan Sunnah.”
Jadi bukan dengan perasaan diukur. Kalau mengukur dengan perasaan sudah terlalu banyak orang sesat. Ingatlah ketika iblis mengeluarkan bapak kita Adam ‘alaihis salâm dari surga. Iblis datang bentuk orang yang shalih, orang yang menasihati. Penampilannya ini yang membuat iblis mampu memasukkan was-wasnya.
Penampilan itu bukan ukuran, bahkan Yahya bin Ma’in rahimahullâh berkata dalam suatu riwayat:
مَا رَأَيْتُ أَكْذَبَ مِنَ الْعُبَّادِ
“Saya tidak melihat orang yang lebih pendusta daripada ahli ibadah.”
Maksudnya di zaman itu dulu ada ahli ibadah, ahli hadits, dan ahli ibadah sekaligus ahli hadits. Dan ahli ibadah ini yang diketahuinya hanya ibadah saja, tidak mengetahui hadits. Maka kalau mereka menyampaikan hadits kebanyakannya hadits-hadits palsu atau hadits-hadits lemah. Seperti Maisaroh bin ‘Abdi Robbih yang membuat hadits-hadits palsu tentang keutamaan surah-surah; surah Al Fatihah keutamaannya begini, surah Al Baqarah keutamaannya begini, dan seterusnya. Dan ia mengakui, ketika ia ditanya, “Mengapa kamu membuat hadits-hadits palsu?” Katanya, “Saya melihat menusia berpaling dari Al Qur’an makanya saya membuar hadits-hadits palsu supaya mereka senang membaca Al Qur’an.”
Maka, penampilan itu bukan ukuran tetapi yang diukur apakah ia di atas Al Qur’an dan As Sunnah. Jangan bersikap dan menyikapi dengan perasaan atau hanya melihat yang nampak dan zhahirnya.
Contoh lain, Imam ‘Abdurrazzaq Ash Shan’ani rahimahullâh, pengarang kitab Al Mushannaf yang terkenal. Beliau rahimahullâh terpengaruh sedikit pemikiran Syi’ah karena seorang gurunya yang bernama Ja’far bin Sulaiman Adh Dhuba’i, yang Imam ‘Abdurrazzaq duduk dengannya dan terpengaruh. Mengapa bisa terpengaruh? Beliau menyebutkan:
أَعْجَبَنِيْ صَمْتُهُ
“Saya takjub dengan wibawanya orang ini.”
Bayangkan imam besar ini, banyak menghafal hadits bisa tertipu seperti ini wal’iyadzu billâh. Karena itulah menyikapi dan menjauhi orang-orang yang menyeleweng dan ahlul bid’ah ini adalah perkara yang besar dalam syari’at karena hati itu lemah. Jangan sampai ia memberi syubuhât sedangkan kita tidak mengetahuinya. Maka sekali lagi, perasaan bukanlah ukuran.
Filed under: Bab 1: Muqaddimah





