Pendahuluan Ke-4: Wajibnya Menerangkan Penyimpangan sebagai Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Kemudian pendahuluan yang keempat—mohon maaf, masih ada lima lagi pendahuluannya, sebab terlalu banyak syubuhât di seputar permasalahan sehingga saya harus menerangkan dahulu prinsip Ahlus Sunnah dalam masalah ini sebelum menguraikan tentang kesesatan Wahdah Islamiyah—supaya hal ini bisa kita pahami bersama. Dan ini juga dalam rangka menerapkan perkataan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dalam Kitabul ‘Ilmi dan Imam Muslim dalam Al Muqaddimah:
حَدِّثُوْا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُوْنَ أَتُحِبُّوْنَ أَنْ يُكَذَّبَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ؟
“Berceritalah kepada manusia dengan apa yang mereka ketahui, apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?”
Perkataan benar dan yang disampaikan haq tapi karena ini belum sampai kepada akal dan pemahamannya seseorang, maka ia langsung didustakan. Maka kita harus melalui pendahuluan agar bisa memahami Al Haq ini.
Kemudian pendahuluan berikutnya, dalam syari’at Islam kita diperintahkan untuk menerangkan Al Haq dan untuk membantah orang-orang yang menyelisihi dan menyimpang dari syari’at Islam.
Allah subhânahu wa ta’âlâ berfirman,
وَإِذْ أَخَذَ اللهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلاَ تَكْتُمُونَهُ.
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kalian menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kalian menyembunyikannya.” (QS Âli ‘Imrân: 187)
Dan Allah subhânahu wa ta’âlâ mengancam orang-orang yang menyembunyikan Al Kitab dalam firman-Nya,
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَـئِكَ يَلعَنُهُمُ اللهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ.
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat mela’nati.” (QS Al Baqarah: 159)
Dan di ayat yang lain,
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلاً أُولَـئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلاَّ النَّارَ وَلاَ يُكَلِّمُهُمُ اللهُُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ.
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang murah, mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” (QS Al Baqarah: 174)
Dan Allah subhânahu wa ta’âlâ menerangkan dalam Al Qur’an,
وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ اْلآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ.
“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Qur’an supaya tampak jalan orang-orang yang salah.” (QS Al An’âm: 55)
Jadi memang Al Haq/kebenaran itu tidak diketahui kalau tidak diterangkan kebalikannya. Tidak mungkin kita tahu rasa manis kalau tidak tahu lawannya yakni pahit. Tidak diketahui jalan yang kanan kalau tidak ada jalan yang kiri. Ini secara fithrah bisa dipahami. Demikian pula dalam ayat-ayat ini, diterangkan ayat-ayat Al Qur’an supaya jelas jalan orang mujrim, orang-orang yang menyimpang.
Karena itulah seorang penyair berkata,
عَرَفْتُ الشَّرَّلاَ لِلشَّرِّ لَكِنْ لِتَوَقِّيْهِ
وَمَنْ لَمْ يَعْرِفُ الشَّرَّ مِنَ الْخَيْرِ يَقَعْ فِيْهِ
“Saya mengetahui kejelekan bukan untuk mengikutinya, tetapi untuk menjaga diri saya agar jangan jatuh ke dalam kejelekan itu.
Dan siapa yang tidak mengetahui kejelekan itu dari pada kebaikan, ia akan jatuh ke dalamnya.”
Karena itulah Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallâhu ‘anhu mempunyai sikap lain,
كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِيْ.
“Manusia bertanya kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan, sedangkan saya bertanya kepada beliau tentang kejelekan, karena saya khawatir kejelekan itu akan menimpaku.” (HR Al Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu wajib untuk menerangkan Al Haq dan menerangkan lawannya yakni kebathilan. Hal ini juga dinamakan jihad oleh Allah subhânahu wa ta’âlâ, sebagaimana firman-Nya,
فَلاَ تُطِع الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُم بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا.
“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar.” (QS Al Furqan: 52)
Juga firman-Nya,
وَجَاهِدُوا فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ.
“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad.” (QS Al Hajj: 78)
Kedua ayat ini (Al Furqan: 52 dan Al Hajj: 78) turun di Makkah sedangkan ketika masih di Makkah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam tidak diperintahkan untuk berperang dengan pedang/fisik, bahkan dilarang sebagaimana dalam ayat,
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّواْ أَيْدِيَكُمْ.
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, tahanlah tangan-tangan kalian (dari berperang.” (QS An Nisa: 77)
Jihad dengan perang fisik dilarang di Makkah, jadi jihad apa yang diinginkan pada ayat ini? Kata Ibnul Qayyim rahimahullâh, yaitu jihad dengan hujjah, dengan bayan (argumen).
Dan kita diperintahkan untuk amar ma’ruf nahi munkar. Dalilnya Allah subhânahu wa ta’âlâ berfirman,
لاَّ خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاَحٍ بَيْنَ النَّاسِ.
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.” (QS An Nisâ’: 114)
Allah subhânahu wa ta’âlâ juga berfirman,
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ.
“Dan hendaklah ada di antara kamu sekelompok umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Âli ‘Imrân: 104)
Juga firman-Nya,
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ.
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” QS Âli ‘Imrân: 104)
Filed under: Bab 1: Muqaddimah





