Pendahuluan Ke-2: Dalam Setiap Perkara Wajib Bersikap Adil & Inshof
Kemudian pendahuluan yang kedua bahwa di dalam segala sesuatu kita wajib berbuat adil dan inshof, ini adalah manhaj Islam. Kita berbuat adil dan tidak menzhalimi orang, kita menyebutkan mereka dengan keadilan. Allah subhânahu wa ta’âlâ memerintahkan kita untuk berbuat adil dalam firman-Nya,
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS An Nahl: 90)
Maka kita diperintahkan dengan keadilan dan diperintahkan untuk berucap dengan keadilan. Dalam Al Qur’an Allah subhânahu wa ta’âlâ berfirman,
وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى.
“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendati pun dia adalah kerabat (mu).” (QS Al An’âm: 152)
Dan juga Allah subhânahu wa ta’âlâ berfirman,
وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى.
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.” (QS Al Ma-idah: 8)
Kita diperintahkan untuk berbuat adil dan tidak mengikuti hawa nafsu. Allah subhânahu wa ta’âlâ menegaskan,
فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا.
“Dan janganlah karena sebab kalian mengikuti hawa nafsu menahan kalian untuk tidak berbuat adil.” (QS An Nisâ’: 135)
Kita diperintahkan untuk berbuat adil pada segala sesuatu. Karena itulah kami berbicara di sini, ini masalahnya adalah masalah agama sebagaimana yang saya akan bermatsal seperti perkataan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu ‘anhu:
فلما رأيت أمرا أمرا منكرا
“Tatkala saya melihat perkara tersebut adalah perkara yang mungkar, maka saya pun menyalakan tungkuku dan saya ambil apiku.”
Ini beliau ucapkan tatkala memberantas orang-orang Syi’ah Rafidhah yang meng-ilah-kan (mempertuhankan) ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu ‘anhu. Maka kalau perkara itu adalah perkara yang mungkar dan berbahaya bagi umat dan ini adalah suatu perkara yang sangat bertentangan dan bertolak belakang dengan manhaj Ahlus Sunnah, dengan Al Qur’an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman para ulama Salaf, maka kita harus menerangkan hal tersebut karena ini adalah masalah agama, bukan karena masalah pribadi atau karena kebencian kepada seseorang dan seterusnya. Dan kita berbicara dengan keadilan, walhamdulillâh.
Filed under: Bab 1: Muqaddimah






Alhamdulillahirobbil’alamiin,barokalloh